Followers

Benarkah Orang Depresi Punya Bahasa Yang Berbeda?

Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres adalah hal yang normal dan justru baik bagi Anda dalam situasi tertentu. Ketika Anda sedang dilanda stres, misalnya karena tumpukan pekerjaan atau karena Anda sedang merencanakan pernikahan, Anda akan semakin terpicu untuk fokus pada masalah dan meningkatkan kinerja. Namun, Anda perlu berhati-hati karena kalau sudah terlewat stres, Anda bisa jadi menderita depresi. Bahkan pada beberapa kasus, depresi bisa muncul tanpa didahului oleh stres.

Stres dan depresi sering kali digunakan oleh awam sebagai istilah yang dapat dipertukarkan. Padahal, kedua hal ini memiliki perbedaan mendasar. Cara kerja stres dan depresi tidaklah sama, maka penanggulangannya pun akan berbeda pula. Jika tidak ditangani dengan benar, depresi bisa membahayakan kesehatan jiwa, jasmani, hingga nyawa. Jadi, penting bagi Anda untuk mengenali perbedaan stres dan depresi agar bisa merawat diri dengan tepat sebelum terlambat.

Depresi adalah sebuah penyakit mental yang berdampak buruk pada suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya. Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter. Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik. Orang yang terserang depresi biasanya akan merasa hilang semangat atau motivasi, terus-menerus merasa sedih dan gagal, dan mudah lelah. Kondisi ini bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih.

Maka, orang yang menderita depresi biasanya jadi sulit menjalani kegiatan sehari-sehari seperti bekerja, makan, bersosialisasi, belajar, atau berkendara secara normal. Siapa pun bisa terserang depresi, terutama jika ada riwayat depresi dalam keluarga terdekat Anda. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita lebih berisiko terserang depresi daripada pria. Namun berbeda dengan stres, depresi memiliki keanehan yang tidak masuk akal. Apakah keanehan tersebut? Yuk simak hingga selesai.

Orang Depresi Menggunakan Bahasa Berbeda

Riset terbaru mengungkapkan perbedaan yang nyata dan konsisten pada bahasa, antara mereka yang dengan dan tanpa gejala depresi.

Dari cara Anda bergerak dan tidur, bagaimana Anda berinteraksi dengan orang di sekitar Anda, depresi mengubah segalanya. Bahkan ini terlihat pada cara Anda berbicara dan mengekspresikan diri dalam menulis. Kadang “bahasa depresi” ini bisa memiliki efek yang kuat terhadap orang lain. Coba pikirkan dampak dari puisi dan lirik lagu Sylvia Plath dan Kurt Cobain, yang keduanya bunuh diri setelah menderita depresi.

Ilmuwan telah lama berusaha untuk mencari tahu hubungan yang jelas antara depresi dan bahasa, dan teknologi membantu kita lebih dekat ke gambaran yang utuh. Studi terbaru kami, yang dipublikasi di Clinical Psychological Science, kini telah menyingkap sekelompok kelas kata-kata yang bisa membantu secara akurat apakah seseorang sedang menderita depresi.

Secara tradisional, analisis linguistik di bidang ini telah dilakukan oleh peneliti yang membaca dan membuat catatan-catatan. Kini, metode analisis teks dengan komputer memungkinkan pemrosesan bank data yang sangat besar dalam hitungan menit. Ini bisa membantu mengenali ciri linguistik yang mungkin terlewatkan oleh manusia, menghitung prevalensi persentase kata-kata dan kelas kata-kata, diversitas leksikal, rerata panjang kalimat, pola gramatikal, dan banyak metrik lainnya.

Sejauh ini, esai pribadi dan buku harian oleh orang depresi telah berguna, seperti halnya karya seniman terkenal seperti Cobain dan Plath. Untuk kata-kata yang diucapkan, potongan dari bahasa alamiah orang-orang dengan depresi juga telah memberikan wawasan. Bila digabungkan, temuan dari riset seperti itu mengungkapkan perbedaan yang nyata dan konsisten pada bahasa, antara mereka yang dengan dan tanpa gejala depresi.

– Isi

Bahasa bisa dibagi ke dalam dua komponen: isi dan gaya. Isi berkaitan dengan apa yang kita ekspresikan — yakni makna atau pokok pernyataan. Akan mengejutkan tidak ada yang menyadari bahwa mereka dengan gejala depresi menggunakan kata yang menyampaikan emosi negatif secara berlebihan, khususnya kata sifat dan kata keterangan negatif—seperti “kesepian”, “sedih”, atau “menyedihkan”.

Yang lebih menarik yakni penggunaan kata ganti. Mereka dengan gejala depresi menggunakan lebih banyak kata ganti orang pertama tunggal secara signifikan—misalnya “saya”, “diri saya” dan “aku”—dan secara signifikan lebih sedikit kata ganti orang kedua atau ketiga—seperti “mereka”, atau “dia”, dan kurang terhubung dengan orang lain. Peneliti telah melaporkan bahwa kata ganti sebenarnya lebih bisa diandalkan dalam mengenali depresi, ketimbang kata-kata bernada negatif.

Kita tahu bahwa ruminasi (berkutat pada masalah pribadi) dan isolasi sosial adalah ciri umum dari depresi. Namun, kita tidak tahu apakah temuan ini mencerminkan perbedaan dalam gaya atensi atau berpikir. Apakah depresi menyebabkan orang fokus pada dirinya sendiri, ataukah orang yang fokus pada dirinya sendiri mendapatkan gejala depresi?

– Gaya

Gaya bahasa berkaitan dengan bagaimana kita mengekspresikan diri kita, ketimbang isi yang kita ekspresikan. Laboratorium kami baru-baru ini menganalisis besar teks data di 64 forum kesehatan mental daring, memeriksa lebih dari 6.400 anggota. “Kata-kata absolut”—yang menunjukkan besaran atau probabilitas absolut, seperti “selalu”, “tidak ada”, atau “sepenuhnya”—ditemukan merupakan penanda yang lebih baik untuk forum kesehatan mental ketimbang kata ganti maupun kata-kata dengan emosi negatif.

Dari awal, kami memperkirakan bahwa mereka dengan depresi akan memiliki lebih banyak pandangan hitam dan putih tentang dunia dan bahwa ini akan bermanifestasi dalam gaya Bahasa mereka. Dibandingkan dengan 19 forum kontrol berbeda contohnya, Mumsnet dan StudentRoom, prevalensi kata-kata absolut sekitar 50% lebih banyak dalam forum kecemasan dan depresi dan sekitar 80% lebih banyak untuk forum-forum ideasi (tahap penciptaan ide) bunuh diri.

Kata ganti menciptakan pola distribusi yang mirip dengan kata-kata absolut di forum, tapi efeknya lebih kecil. Sebaliknya, emosi negatif secara paradoks lebih jarang muncul dalam forum ideasi bunuh diri ketimbang di forum kecemasan dan depresi.

Riset kami juga meliputi forum pemulihan, saat anggota yang merasa telah pulih dari episode depresi menuliskan kiriman positif dan membesarkan hati mengenai pemulihan mereka. Di sini kami menemukan bahwa kata-kata emosi negatif digunakan dalam nilai yang sebanding dengan forum kontrol, sedangkan kata-kata emosi positif meningkat sekitar 70%. Namun demikian, prevalensi kata-kata absolut tetap lebih besar secara signifikan daripada kontrol, tapi sedikit lebih rendah ketimbang forum kecemasan dan depresi.

Yang terpenting, mereka yang sebelumnya memiliki gejala depresi lebih mungkin mengalaminya lagi. Oleh karena itu, kecenderungan mereka yang lebih besar untuk berpikir absolut, bahkan ketika sedang tidak ada gejala depresi, itu adalah tanda bahwa hal tersebut berperan dalam menyebabkan episode depresi. Efek yang sama terlihat dalam penggunaan kata ganti, tapi tidak untuk kata-kata emosi negatif.

-Implikasi praktis

Memahami bahasa depresi bisa membantu kita mengerti bagaimana orang dengan depresi berpikir, tapi hal ini juga memiliki implikasi praktis. Peneliti sedang mengombinasikan analisis teks otomatis dengan machine learning (komputer yang bisa belajar dari pengalaman tanpa diprogram) untuk mengelompokkan berbagai kondisi kesehatan mental, dari bahasa alami hingga contoh teks seperti kiriman blog.

Klasifikasi seperti itu mengungguli yang dibuat oleh terapis terlatih. Yang penting, klasifikasi mesin belajar hanya akan bertambah baik ketika lebih banyak data diberikan dan dikembangkan algoritma yang lebih canggih. Cara ini melampaui dari melihat pola absolutisme yang luas, negativitas, dan kata ganti yang telah didiskusikan. Pekerjaan telah mulai menggunakan komputer untuk secara akurat mengenali peningkatan subkategori spesifik mengenai masalah kesehatan mental seperti perfeksionisme, masalah penghargaan diri, dan kecemasan sosial.

Konon, tentunya mungkin untuk menggunakan bahasa yang terkait dengan depresi tanpa benar-benar menjadi depresi. Pada akhirnya, bagaimana perasaan Anda dari waktu ke waktulah yang menentukan apakah Anda menderita.

The Conversation tapi seperti perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia bahwa lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia kini hidup dalam depresi, meningkat lebih dari 18% sejak 2005, memiliki lebih banyak alat untuk mengenali kondisi ini tentu sangat penting untuk memperbaiki kesehatan dan mencegah bunuh diri tragis seperti yang terjadi pada Plath dan Cobain.

Benarkah Orang Baik Rentan Depresi?

Bersikap baik pada orang lain adalah hal yang harus kita lakukan agar tidak menimbulkan permusuhan. Namun, riset baru menunjukan bahwa beberapa sikap baik bisa berdampak buruk pada diri sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior, orang-orang yang baik- mereka yang peka terhadap ketidakadilan atau ketidaksetaraan sosial – lebih cenderung menunjukkan gejala depresi daripada orang-orang yang cenderung egois.

Riset yang dipimpin oleh Dr. Masahiko Haruno tersebut meneliti kaitan pola pikir orang-orang yang dianggap pro-sosial – mereka yang rela berkorban demi keadilan dan kesetaraan – dengan gejala klinis depresi jangka panjang.

Percobaan dilakukan dengan meneliti kepribadian 350 orang untuk menentukan apakah mereka masuk kategori ‘pro-sosial’ atau ‘individualis’. Peneliti juga mengukur keinginan orang untuk saling berbagai kepada mereka yang kurang beruntung dari segi keuangan. Mereka memeriksa otak peserta riset yang telah dikelompokan dalam kategori ‘pro-sosial dan ‘individualis; menggunakan magnetic resonance imaging (MRI). Hal ini dilakukan untuk melihat area otak mana yang aktif selama situasi tertentu.

Hasilnya, terdapat perbedaan pada gambaran otak pada dua tipe ini. Saat memberikan uang kepada mereka yang kurang beruntung, orang-orang pro-sosial menunjukan aktivitas tinggi di amigdala (wilayah evolusioner otak yang terkait dengan perasaan otomatis, termasuk stres).

Sementara itu, aktivitas amigdala pada tipe individualis meningkatkan hanya jika orang lain menerima lebih banyak uang. Pada bagian hippocamus – daerah otak lainnya yang terlibat dengan respon stres – juga memiliki perbedaan.

Para peneliti kemudian menindaklanjuti temuan ini dengan kuesioner depresi umum yang disebut Inventaris Depresi Beck untuk melihat apakah pola aktivitas otak ini terkait dengan gejala depresi dalam dua minggu sebelumnya. Hasilnya, pola prososial yang meningkatkan aktivasi otak ini dikaitkan dengan kecenderungan depresi. Hal yang sama juga terjadi pada peserta riset setelah peneliti mengulang kembali riset ini setahun kemudian.

Menurut para peneliti, orang yang masuk dalam kategori ‘baik’ lebih rentan terhadap depresi karena mereka lebih cenderung mengalami empati, rasa bersalah, dan stres yang ekstrem. Kepekaan emosional ini juga dihubungkan ke daerah terdalam dan paling otomatis di otak – tempat yang mudah memicu depresi.

Sebaliknya, Mauricio Delgado, seorang neuroscientist di Rutgers University mengatakan bahwa ada banyak bagian otak lainnya yang terlibat dalam depresi.

“Meskipun rata-rata mereka yang pro-sosial mungkin memiliki amigdala dan hippocampus yang sensitif, ada banyak daerah otak orde tinggi lainnya yang terlibat dalam depresi, termasuk korteks prefrontal, daerah otak terkait dengan pengaturan perasaan otomatis ini,” ucapnya.

Dengan melatih proses otak tingkat tinggi (seperti korteks prefrontal) melalui terapi bicara, mereka yang pro-sosial dapat belajar mengendalikan dan melawan emosi utama. Semakin mereka dapat menggunakan korteks pra-frontal untuk mengurangi tekanan berbasis amigdala, semakin kecil kemungkinannya untuk jatuh dalam depresi. Walau begitu, janganlah khawatir berbuat baik dan peduli pada sesama. Lalu, pernah kah anda melihat seorang ibu yang deprsi dan anak nya juga ikut merasakan depresi tersebut? Kenapa bisa begitu ya?

Bayi Merasakan Saat Ibunya Depresi

Diperkirakan 1 dari 9 perempuan mengalami gejala depresi pasca melahirkan (post-partum). Gejala-gejala ini, misalnya suasana hati yang berubah-ubah, keletihan dan berkurangnya minat beraktivitas, dapat menyulitkan para ibu untuk terikat secara emosional dengan bayi mereka yang baru lahir.

Hubungan awal antara ibu dan bayi dapat berpengaruh terhadap kesehatan sepanjang hidup, apa pun hasilnya. Misalnya, orang dewasa yang melaporkan lebih banyak disfungsi keluarga dan penganiayaan selama masa kanak-kanak berpeluang lebih besar menderita penyakit ketika dewasa. Sementara itu, mereka yang memiliki hubungan sehat dan suportif selama fase awal kehidupan mampu menangani stres dan mengatur emosi dengan lebih baik.

Meski begitu, para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami bagaimana lingkungan tersebut “merasuk” untuk mempengaruhi kesehatan. Makalah terbaru kami, terbit pada November, menunjukkan adanya kemungkinan kaitan antara peningkatan gejala depresi pada ibu dan kerusakan pada sel bayi mereka.

Telomer dan kesehatan

Bagaimana pengaruh stres terhadap sel-sel kita? Salah satu area penelitian yang berkembang pesat memusatkan perhatian pada telomer.

Telomer adalah tutup di ujung DNA kita yang melindungi kromosom. Telomer ini bagaikan plastik pada ujung tali sepatu yang menjaga agar tali sepatu tidak terurai. Pada dasarnya, ujung plastik itulah yang menyebabkan tali sepatu tetap berfungsi. Hal yang sama berlaku bagi telomer.

Karena panjang telomer dipengaruhi oleh genetika dan usia kita, kadang-kadang telomer dianggap sebagai bagian dari sebuah “jam biologis” yang mencerminkan umur sel-sel kita.

Karena telomer memendek seiring waktu, orang cenderung mengalami banyak sekali hasil kesehatan negatif, seperti penyakit kardiovaskuler, demensia, diabetes, kanker, obesitas, dan bahkan kematian.

Menariknya, telomer bisa memendek lebih cepat ketika seseorang mengalami stres psikologis. Ketika kita mengalami stres, tubuh kita melepas hormon yang disebut kortisol. Hormon ini mempengaruhi baik respons emosional kita maupun metabolisme energi, pembelajaran dan memori kita.

Mungkin ini adalah salah satu mekanisme yang menghubungkan stres psikologis dengan panjang telomer dan juga kesehatan fisik. Sel-sel yang terpapar kortisol memiliki telomer lebih pendek dan lebih sedikit telomerase, yang merupakan enzim yang bertanggung jawab memelihara ujung-ujung telomer.

Proses ini dapat menjelaskan bagaimana stres psikologis diubah menjadi “rusak karena pemakaian” biologis. Bukan itu saja, remaja dengan ibu depresi memiliki respons stres kortisol tinggi dan telomer lebih pendek daripada teman-teman sebaya mereka, sekalipun jika remaja itu sendiri tidak depresi.

Studi Psikolog

Psikolog meneliti apakah peningkatan gejala depresi yang dialami ibu mempengaruhi stres bayi dan kesehatan selnya di kemudian hari.

Masa bayi adalah periode sensitif. Pada periode ini, seorang individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Salah satu cara mempelajari bagaimana stres dini bisa mempengaruhi kesehatan adalah melihat bagaimana bayi merespons stres orang tuanya.

Berbagai studi menunjukkan bahwa bayi yang terpapar depresi maternal boleh jadi kurang terlibat secara sosial dan mengalami emosi yang lebih negatif.

Untuk studi ini kami merekrut 48 ibu dengan bayi berumur 12 minggu dan memantau keluarga-keluarga itu hingga bayi mereka berumur 18 bulan. Pada umur 6 dan 12 bulan, para bayi dibawa ke lab untuk mengikuti uji stres ringan. Misalnya, dalam “eksperimen wajah tanpa ekspresi” (still face experiment), ibu-ibu melakukan aktivitas berganti-ganti antara bermain-main dengan bayi mereka dan tidak bereaksi terhadap permintaan perhatian para bayi.

Ini bisa menimbulkan stres pada bayi, karena mereka mengandalkan para pengasuh mereka bukan hanya untuk memberi makanan, tapi juga menenangkan emosi.

Dalam setiap kunjungan, kami mengukur stres bayi dengan mengumpulkan sampel air liur untuk melihat perubahan dalam kortisol. Kami juga mengumpulkan informasi tentang berapa banyak gejala depresi yang dirasakan para ibu.

Akhirnya, ketika para bayi berumur 18 bulan, kami bawa kembali keluarga-keluarga itu ke lab dan mengumpulkan air liur untuk mengukur panjang telomer bayi.

Gejala depresi yang memburuk pada ibu terkait dengan respons stres kortisol lebih besar pada bayi umur 6 dan 12 bulan. Di samping itu, bayi dengan respons stres kortisol lebih tinggi cenderung memiliki telomer lebih pendek pada umur 18 bulan.  Ini mengindikasikan kerusakan karena penuaan sel yang lebih besar.

Kesehatan mental yang lebih baik

Meskipun temuan-temuan ini bersifat pendahuluan dan harus diulangi terhadap kelompok bayi yang lebih banyak, hasil-hasil yang kami peroleh menggarisbawahi bagaimana pola kesehatan sepanjang hidup bisa dipengaruhi oleh 18 bulan pertama kehidupan.

Stres dini ini bisa menempatkan anak kecil di jalur menuju permulaan dini hasil kesehatan yang buruk. Untungnya, masa bayi adalah periode perkembangan yang sensitif, karena manusia sangat responsif terhadap lingkungannya. Memupuk pengalaman positif antara bayi dan ibu mereka (selain menyediakan pelayanan perawatan yang baik dan terjangkau bagi ibu-ibu depresi) memberi peluang bagi bayi untuk bergerak menuju sebuah lintasan hidup yang lebih sehat.

The Conversation dalam pandangan kami, hasil-hasil ini menunjukkan betapa pentingnya membiayai perawatan kesehatan mental bagi para ibu dan membuat kebijakan bagi anak-anak usia dini yang efektif.

Tak hanya itu saja, jika kalian ingin tahu bagaimana melihat orang yang depresi kalian tidak harus belajar menjadi psikiater tetapi cukup hanya melihat foto-foto nya di media sosial. Emang bisa? Yuk baca hingga selesai lagi.

Foto Instagram Mampu Ungkap Depresi Seseorang

Seringkali, sulit bagi kita untuk mengetahui siapa yang diam-diam menderita depresi di media sosial. Namun, foto Instagram Anda dapat mengungkap indikasi gangguan jiwa yang mempengaruhi lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia tersebut. Menurut sebuah studi baru, peneliti mengembangkan algoritma yang mengidentifikasi 70% penderita depresi dengan menganalisis foto mereka.

Studi kecil yang diterbitkan dalam jurnal EPJ Data Science tersebut melibatkan 166 pengguna Instagram yang mengunggah hampir 44.000 foto di platform media sosial populer itu. Sepasang peneliti mengembangkan sebuah program komputer yang menganalisis beberapa aspek foto, termasuk skema warna dan interaksi foto seperti “suka” dan “komentar”.

“Foto yang diunggah oleh orang-orang yang depresi cenderung lebih gelap warnanya dan mendapat lebih banyak komentar dari masyarakat. Mereka juga cenderung lebih menampakkan wajah yang menggunakan filter,” ujar Dr. Christopher Danforth, rekan penulis studi dan rekan direktur dari University of Vermont’s Computational Story Lab, dalam sebuah pernyataan.

Individu yang menderita depresi cenderung menggunakan filter foto. Mereka cenderung memilih filter Inkwell, yang mengubah foto menjadi hitam putih. Selain itu, analisis komputer menunjukkan bahwa mereka yang mengalami depresi lebih sering mengunggah foto daripada mereka yang tidak mengalami depresi.

Meskipun 71 orang dari seluruh responden memutuskan untuk menerima diagnostik depresi secara klinis, penting untuk dicatat bahwa program komputer peneliti bukanlah alat diagnostik. Sebaliknya, ini bisa membantu memberikan “peringatan dini” tentang depresi, Danforth mengatakan kepada BuzzFeed News.

Mendeteksi depresi dini dapat membantu seseorang mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan untuk mengendalikan gejala mereka.

“Akan lebih baik jika kita melakukan pemeriksaan dini terhadap gejala depresi, daripada melakukan bunuh diri karena tak pernah meminta bantuan kepada psikolog,” ucap Danforth kepada Refinery29.

Salah satu keterbatasan penelitian yang dilakukan oleh Danforth dan Dr. Andrew Reece dari Harvard University adalah ukuran sampel mereka yang kecil, karena banyak orang yang tidak mau berbagi informasi.

Pada awalnya, 509 peserta direkrut. Namun, 43% keluar karena mereka tidak ingin membagikan data media sosial mereka. Di masa depan, penelitian serupa perlu membahas kekhawatiran mengenai privasi data, untuk mempertahankan ukuran sampel yang lebih besar.

Jika anda atau kerabat terdekat anda mengalami depresi jangan menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja karena dampaknya sangat berbahaya. Dalam beberapa kasus, mereka yang sudah terserang depresi berat cenderung mencoba untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Maka, sudah saatnya Anda menanggapi stres dan depresi dengan serius. Kenali perbedaannya dan segera tangani stres dan depresi sebelum terlambat.