0 Followers

Barcode, Pengertian Dan Sejarah Serta Jenisnya

February 27, 2018
309 Views

Apabila kita amati barang-barang belanjaan kita dari supermarket, pastinya kita akan menemukan adanya kode-kode tertentu dalam bentuk batangan (bar) atau lebih populernya “barcode” pada setiap item yang kita ambil di supermarket. Biasanya barang-barang di sana sudah ditempeli dengan barcode, tepat pada bungkusnya.

Tujuannya tidak lain adalah untuk mengotomatiskan sistem pemeriksaan di supermarket. Di samping itu barcode juga banyak digunakan di bidang lain sebagai ID unik untuk memudahkan pengindentifikasian. Istilah barcode dimasa-masa sekarang bukanlah hal yang asing didengar, bahkan hampir setiap hari kita melihat bahkan tanpa disadari barcode ada di sekitar kita. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan barcode itu?

Apa Itu Barcode?

Barcode adalah kode batang dengan garis hitam hitam diatas background putih yang dapat dibaca oleh mesin. Kode barcode biasanya digunakan pada produk atau barang yang berguna untuk memberi kode pada barang tersebut. Sekarang barcode dapat dijumpai dimana-mana. Di supermarket, swalayan atau di warung-warung yang ada di sekitar kita, banyak sekali kita jumpai produk-produk yang terdapat banyak garis vertikal warna hitam yang saling berdekatan.

Di dalam barcode tersebut terdapat informasi atau data yang biasanya berupa data angka. Angka tersebut biasanya juga tercantum di bawah barcode tersebut. Penggunaan awal kode batang adalah untuk mengotomatiskan sistem pemeriksaan di swalayan, tugas dimana mereka semua menjadi universal saat ini.

Kenapa Harus Menggunakan Barcode? Jika memang sudah ada kode angka, mengapa masih diperlukan barcode? Jawabnya adalah perangkat seperti komputer lebih mudah membaca sesuatu yang bersifat digital daripada angka yang bersifat analog. Kode barcode dengan warna contrast (hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD (Charge Couple Device) atau laser yang ada pada alat pemindai (Scanner), untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka.

Nomor barcode pun secara teori tidak mungkin kembar. Hal ini karena sebelum produsen dapat meletakkan sebuah barcode pada produknya, dia harus mendaftarkan kode angka dan barcode ke sebuah lembaga internasional. Di Indonesia untuk mendaftarkan barcode wajib melalui deperindag, kemudian deperindag mendaftarkannya kepada lembaga Internasional. Tanpa barcode, dahulu kasir memasukkan penjualan di komputer dengan bantuan nama barang atau kode barang.

Nama barang memang dirasa lebih memperkecil kemungkinan kesalahan. Namun kerugiannya, waktu antri akan sangat lama karena kasir akan mengetikkan lebih banyak karakter. Bahkan tak hanya itu saja manfaat memakai barcode juga dapat meminimalisir kesalahan input data pada kasir dan memudahkan cek stok dengan cepat dan tepat. Barcode lebih efektif digunakan, karena kebanyakan produsen telah meletakkan kode barcode dalam produk yang mereka produksi.

Kode barcode sebenarnya juga adalah sederetan angka, namun direpresentasikan dalam bentuk garis-garis melintang. Kode ini bersifat unik di seluruh dunia, karena juga mengandung kode negara. Misalnya untuk jenis barcode EAN, Indonesia mempunyai kode awalan 888 dan 899. Jadi dapat dipastikan jika anda melihat barang dengan kode barcode awal adalah 899, maka produk tersebut diproduksi di Indonesia.

Sejarah Barcode

Pada tahun 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang pada perusahaan retail. Awalnya, teknologi barcode berada di bawah kendali perusahaan retail. Lalu, kode batang diikuti oleh perusahaan industri. Setelah itu pada 1948, seorang pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Intitute Technology di Philadelphia, untuk membuat sistem pembacaan informasi produk secara otomatis. Setelah itu, Norman Joseph Woodland dan Bernard Silver, lulusan Drexel patent application, bergabung untuk mencari solusi tentang sistem pembacaan informasi produk secara otomatis.

Woodland mengusulkan penggunaan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet pada sistem pembacaan otomatis, tapi usul tersebut ditolak karena tidak stabil dan mahal. Kemudian, pada 20 Oktober 1949, Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe sistem pembacaan informasi otomatis yang lebih baik. Akhirnya, pada 7 Oktober 1952, Woodland dan Silver mendapatkan hak paten dari hasil penelitian yang mereka lakukan. Untuk pertama kalinya, kode batang digunakan secara komersial pada 1970 saat Logicon Inc. membuat Universal Grocery Product Identification Standard (UGPIC).

Sementara, perusahaan pertama yang memproduksi barcode untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Sementara, pemakaian pertama kali kode batang untuk dunia industry digunakan oleh Plessey Telecommunications. Selain itu, dibentuk sebuah komite dalam grocery industry untuk memilih kode standar yang akan digunakan di Industri.

Penggunaan barcode sangat dirasakan manfaatnya mulai dari kebutuhan Retail, Industri, Farmasi, Bidang Kesehatan, dan bahkan di instasi pemerintahan seperti PLN, dimana untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan mulai menggunakan Barcode System.

Jenis-Jenis Barcode

Ada beberapa standarisasi jenis barcode. Berikut ini adalah jenis barcode yang sering digunakan:

1. Code 39

Code 39 sebagai simbolik yang paling populer di dunia barcode non-retail, dengan variabel digit yang panjang. Namun saat ini code 39 makin sedikit dipergunakan dan digantikan dengan Code 128 yang lebih mudah dibaca oleh pemindai (scanner).

2. Universal Product Code (UPC)-A

Terdiri dari 12 digit, yaitu 11 digit data. 1 check digit; untuk kebutuhan industri retail.

3. UPC-E

Terdiri dari 7 digit, yaitu 6 digit data, 1 check digit : untuk bisnis retail skala kecil.

4. European Articles Numbering (EAN)-8

Terdiri dari 8 digit, yaitu 2 digit kode negara, 5 digit data, 1 check digit.

5. EAN-13 atau UPC-A versi Eropa

Terdiri dari 13 digit, yaitu 12 digit data, 1 check digit

Tipe barcode yang banyak di Indonesia adalah EAN 13, yaitu kode barcode dengan 13 digit. Dimana 3 kode awalnya merupakan kode negara Indonesia (899). Kemudian empat angka berikutnya menunjukkan kode perusahaan. Selanjutnya lima angka secara berturut-turut merupakan kode produk dan angka terakhir berupa validasi atau cek digit.

Cara Membaca Barcode

Secara umum, yang bertugas membaca barcode ini adalah sistem scanner yang terhubung ke komputer. Namun secara manual kita bisa membacanya dengan cara sebagai berikut:

Kode batang terdiri dari garis hitam dam putih. Ruang putih di antara garis-garis hitam adalah bagian dari kode. Ada perbedaan ketebalan garis. Garis paling tipis “1”, yang sedang “2”, yang lebih tebal “3” dan yang paling tebal “4”. Setiap digit angka terbentuk dari urutan empat angka. 0 = 3211, 1 = 2221, 2 = 2122, 3 = 1411, 4 = 1132, 5 = 1231, 6 = 1114, 7 = 1312, 8 = 1213, 9 = 3112.

Standar kode batang retail di Eropa dan seluruh dunia kecuali Amerika dan Kanada adalah EAN (European Article Number)– 13. EAN-13 standar terdiri dari:

  • Kode negara atau kode sistem: 2 digit pertama kode batang menunjukkan negara di mana manufacturer terdaftar.
  • Manufacturer Code: Ini adalah 5 digit kode yang diberikan pada manufacturer dari wewenang penomoran EAN.
  • Product Code: 5 digit setelah manufacturer code. Nomor ini diberikan manufacturer untuk merepresentasikan suatu produk yang spesifik.
  • Check Digit atau Checksum: Digit terakhir dari kode batang, digunakan untuk verifikasi bahwa kode batang telah dipindai dengan benar.

Melihat dan mengetahui produk itu berasal dari negara mana, kita bisa membacanya dengan 3 digit pertama barcode tersebut. Barcode atau kode baris yang muncul pada barang yang diproduksi mengikuti aturan internasional yang ditetapkan. Kita mengenal EAN (European Article Number) yang memberikan informasi sistem pengkodean.

Barcode aturan yang ditetapkan terdiri dari 13 digit, yaitu kode Negara, kode perusahaan, kode produk dan cek digit. Kode ini dipakai untuk kepentingan perdagangan internasional. Dan perlu untuk kita simak bersama dibawah ini, ulasan mengenai cara kerja barcode.

Cara Kerja Barcode

Barcode adalah kode-kode berbentuk bar memanjang, sedangkan barcode reader (barcode scaner) adalah alat yang dapat membaca kode-kode tersebut, sinar yang dikeluarkan alat ini berupa infrared, pada saat barcode reader ditembakan tepat ke area barcode maka data atau kode-kode tersebut akan dibaca. Selanjutnya data ditransfer ke komputer dan disimpan di alamat tertentu (address) untuk ditampilkan dilayar monitor atau alat lain.

Barcode reader tidak akan bekerja dengan sempurna apabila pada kode barcodenya terdapat cacat seperti coretan, warna kode terhapus sebagian dll, ataupun ketika penembakkan scaner posisinya tidak center (miring). Pembacaan yang sempurna akan ditandai dengan bunyi “tit” satu kali dan nyala lampu indikator satu kali yang terdapat pada scaner.

Kode batang sekarang menjadi sebuah bagian penting di waktu modern ini. Hampir semua barang yang dijual di departement store, swalayan, supermarket bahkan toko grosir sudah memakai kode batang ini. Penggunaan kode batang adalah supaya dapat memudahkan melacak seluruh item barang hingga akan tergambar data dan harga yang sudah diprogram dan muncul di layar komputer.

Kegunaan Dan Fungsi Barcode

Kita dapat melihat manfaat dari Barcode dapat meningkatkan kecepatan dalam melayanai pelanggan dan meningkatkan akurasi data produk yang di input oleh kasir. Di Indonesia sendiri organisasi yang mengelola dan mengatur penggunaan Barcode adalah GS1. Dengan mendaftarkan kode barcode perusahaan ke GS1 maka perusahaan tersebut akan mendapatkan kode barcode khusus yang tidak akan bisa diduplikasi oleh perusahaan lain. Simbologi yang dipakai di GS1 adalah EAN atau Europe Article Number yang terdiri dari 13 atau 8 digit. Dan berikut beberapa fungsi yang didapat dari penggunaan Barcode;

  1. Sistem kode batang menawarkan feedback yang tepat waktu. Begitu sistem kode batang digunakan, data dapat diterima dengan cepat. Hal ini pun memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat berdasarkan informasi terbaru.
  2. Sistem kode batang membuat aktivitas operasional dalam bisnis menjadi lebih singkat. Terbayang jika seorang kasir memasukkan harga barang secara manual.
  3. Kode batang sangat mudah digunakan. Dengan menggunakan hardware dan software yang tepat, penggunaan kode batang dapat memaksimalkan proses pengumpulan data secara otomatis. Dan tentunya, akan lebih mudah membuat inventarisasi secara akurat dengan menggunakan sistem kode batang daripada secara manual.
  4. Untuk mengelompokkan, menandai atau mengidentifikasi barang, buku atau kartu dengan lebih mudah. Pabrik menggunakannya untuk memudahkan penjualan dan penyimpanan barang. Kalau di perpustakaan, kode garis digunakan untuk memudahkan pustakawan memperoleh informasi mengenai status suatu buku, sedang dipinjam atau tidak, siapa yang meminjam dan sebagainya dengan cepat dan akurat. Identitas pemilik kartu anggota perpustakaan yang memiliki kode garis, misalnya lebih cepat diketahui dan memudahkan proses peminjaman dan pengembalian buku.
  5. Sistem kode batang dapat meningkatkan efisiensi operasional sehingga memungkinkan sebuah perusahaan dapat mengemat biaya dan dapat meningkatkan keuntungan bisnis yang dijalani.
  6. Beragam standar pemenuhan berdasarkan sistem kode batang yang terstandarisasi, menjamin informasi diterima dan disampaikan dengan cara yang benar sehingga dapat diterima dan dipahami secara umum.

Berikut Kegunaan Barcode, yakni;

  1. Barcode untuk keperluan retail. Barcode ini salah satu contohnya adalah UPC (Universal Price Codes), biasanya digunakan untuk keperluan produk yang dijual di supermarket.
  2. Barcode untuk kepentingan non retail. Nah, kalo kode batang jenis ini misalkan seperti halnya barcode untuk pelabelan buku-buku yang ada di perpustakaan. Salah satu tipe barcode untuk keperluan non retail ini adalah Code 39.
  3. Barcode untuk packaging. Barcode ini biasanya digunakan untuk pengiriman barang dan salah satunya adalah barcode tipe ITF.
  4. Barcode untuk keperluan penerbitan. Sering digunakan pada penerbitan suatu produk, misalkan barcode yang menunjukkan ISSN suatu buku.
  5. Barcode untuk keperluan farmasi. Barcode ini biasanya digunakan untuk identifikasi suatu produk obat-obatan. Salah satu barcode farmasi adalah barcode jenis HIBC.

Demikianlah penjelasan diatas mengenai barcode, semoga artikel ini dapat memberi pengetahuan bagi pembaca.

You may be interested

Yuk, Ketahui Tentang Ekologi
science
33 views
science
33 views

Yuk, Ketahui Tentang Ekologi

Vera Essy - May 25, 2018

Pernahkah Anda mendaki di hutan dan melihat keragaman organisme yang luar biasa hidup bersama, dari pohon pakis sampai pohon jamur…

Fakta Dan Mitos Permainan Judi Baccarat
blog
53 views
blog
53 views

Fakta Dan Mitos Permainan Judi Baccarat

Vera Essy - May 22, 2018

Sejak permainan casino didasarkan pada perjudian, pastinya akan ada banyak mitos seputar berbagai permainan karena sebagian orang percaya begitu banyak…

Penjelasan Mengenai Intranet Serta Perbedaannya Dengan Internet
Teknologi
102 views
Teknologi
102 views

Penjelasan Mengenai Intranet Serta Perbedaannya Dengan Internet

Vera Essy - April 29, 2018

Di era yang serba modern sekarang ini, kita semua pastinya sudah saling terhubung menggunakan teknologi. Bisa dibilang bahwa teknologi merupakan…